Haii guys :D
Di
postingan kali ini aku mau ngeshare tentang daerahku.. seperti yang
sudah aku jelaskan di page 'About Me', aku tinggal di Kalimantan Tengah
nih.. Jadi, mulai dari sekarang aku mau ngeshare mengenai kebudayaan di
Kalimantan Tengah.
Okee,
kalian semua pasti udah tau dong ya Kalimantan Tengah itu di mana.
Yaiyalah, masa daerah Negara sendiri ga tau sihh. Nah, biar lebih
jelasnya silahkan lihat gambar di samping yaa..
Kalimantan
Tengah adalah salah satu sebuah provinsi di Indonesia
yang terletak di pulau Kalimantan. Ibukotanya adalah Kota Palangka Raya. Provinsi ini
mempunyai 13 kabupaten dan 1 kotamadya.
Pada tahun (1977-1978) saat itu,
benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih
menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan
dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut
pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang
sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka
datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.
Belum
lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan
Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh
wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar
menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir
pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing
memiliki sifat dan perilaku berbeda.
Suku
Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak,
sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak
Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara
tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan
suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus
besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari
kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun
1608).
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa
telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan
perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan
kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa,
Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima
orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang
Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera,
barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto
kertodipoero,1963).
Suku Dayak
Suku
Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal
di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri
sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan.
Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab
lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah
“Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah
berani, tidak kenal menyerah atau pantang mundur.
Rumah adat Kalimantan Tengah
dinamakan Rumah Betang, Bentuk rumahnya panjang, bawah kolongnya digunakan
untuk pertenun dan menumbuk padi dan dihuni oleh lebih kurang 20 kepala
keluarga.
Rumah terdiri dari 6 kamar antara
lain untuk penyimpanan alat-alat perang, kamar untuk pendidikan gadis, tempat
sesajian, tempat upacara adat dan agama, tempat penginapan dan ruang tamu. Pada
kiri-kanan ujung atap dihiasi tombak sebagai penolak mara bahaya.
Pakaian Adat
Pakaian adatnya pria Kalimantan Tengah berupa kepala berhiasankan
bulu-bulu enggang, rompi dan kain-kain yang menutup bagian bawah badan
sebatas lutut. Sebuah tameng kayu hiasan yang khas bersama mandaunya
berada di tangan. Perhiasan yang dipakai berupa kalung-kalung manik dan
ikat pinggang. Wanitanya memakai baju rompi dan kain (rok pendek), tutup
kepala berhiaskan bulu-bulu enggang, kalung manik, ikat pinggang dan
beberapa gelang tangan.
Tari-tarian Daerah Kalimantan Tengah
- Tari Tambun dan Bungai, merupakan sebuah tari yang mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas panen rakyat.
- Tari Balean Dadas, merupakan tarian guna memohon kesembuhan bagi mereka yang sakit.
- Tari Sangkai Tingang, tari garapan yang memanfaatkan perbendaharaan gerak tari tradisi ini menggambarkan sikap sekelompok wanita dalam mencintai lingkungan hidupnya. Mereka berusaha dan berdoa agar burung enggang yang indah itu tetap dilindungi kelestariannya.
- Mandau
Di
Kalimantan Tengah senjata tradisionalnya adalah mandau. Bagian hulunya
dihiasi ukiran burung tinggang, sejenis burung enggang. Menurut
kepercayaan mereka, burung tinggang adalah penguasa seluruh alam. Dalam
kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya,
kemanapun sang pemilik pergi mandau akan selalu dibawa karena berfungsi
sebagai simbol kehormatan atau jati diri.
Zaman dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan
dalam acara ritual tertentu seperti perang, pengayauan, perlengkapan
tarian adat, dan perlengkapan upacara. Mandau dipercayai memiliki
tingkat-tingkat keampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak
hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual
tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala
lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang
berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya
sebagian rambutnya digunakan untuk menghias gagang mandau. Mereka
percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, rohnya akan mendiami
mandau tersebut sehingga menjadi sakti. Namun, saat ini fungsi mandau
sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang
koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan
bertani.
Talawang adalah alat yang digunakan oleh suku Dayak untuk pertahanan diri atau pelindung diri dari serangan musuh.
Talawang
dibuat dari bahan kayu yang ringan tetapi kuat. Bentuknya segi enam
memanjang dengan ukuran panjang kurang lebih 1 meter dan lebarnya kurang
lebih 0,5 meter dengan perkiraan dapat menutupi dada manusia guna
menangkis mandau atau tombak musuh apabila terjadi perkelahian dalam
perang. Keseluruhan bidang depan talawang biasanya diukir bentuk topeng
(hudo), lidah api, dan pilin ganda.
Selain sebagai pelengkap alat pertahanan diri, talawang juga digunakan sebagai pelengkap dalam tari-tarian.
Makanan Khas Kalimantan Tengah
Juhu singkah adalah makanan khas masyarakat Dayak, Kalimantan Tengah,
yang sangat lezat. Makanan ini bisa dijumpai di Kota Palangkaraya,
Kalteng. Makanan yang terbuat dari umbut rotan ini lebih lezat bila
dipadukan dengan ikan betok. Umbut rotan diperoleh warga dengan
mencarinya di sekitar hutan tempat mereka tinggal.
Ciri Khas Upacara tiwah ( adat )
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara
yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke
Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah
kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.
Kebetulan Tiwah menjadi suatu upacara yang unik ketika berada di tanah
Tambun Bungai ini. Tiwah merupakan upacara terakhir dari rentetan
upacara kematian bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan. Upacara Tiwah
digelar dan dilaksanakan oleh keluarga ( Dayak ) yang masih hidup untuk
anggota keluarganya yang telah meninggal dunia. Hampir sedikit banyak
mirip dengan upacara adat Tana Toraja di Sulawesi Selatan.
Agama
Kaharingan merupakan satu-satunya keyakinan bagi suku Dayak pada jaman
dahulu yang masih dilesatarikan hingga saat ini, Kaharingan lebih
cenderung pada keyakinan animisme dinamisme, hanya karena Indonesia
mengenal 5 jenis agama pada jaman orde baru, sehingga orang-orang
Kaharingan (agar mendapat KTP secara kependudukan) dikategorikan ke
dalam agama Hindu. Dewasa ini, banyak orang Dayak Kaharingan yang
beralih menjadi Kristen dan Islam, namun aktivitas adat tiwah ini masih
dilakukan oleh mereka sebagai suatu kewajiban adat nenek moyang turun
temurun.
![]() |
| basir, pemimpin upacara tiwah (c) Tira Maya Maisesa |
Kata
Tiwah berasal dari bahasa Sangiang, yaitu bahasa yang digunakan oleh
Kaharingan di Kalimantan Tengah. Bahasa Sangiang biasanya digunakan oleh
pemimpin agama Kaharingan untuk memimpin suatu acara keagamaan.
Upacara Tiwah menurut masyarakat Kalimantan Tengah pada umumnya
menganggap ritual ini sebuah adat, tetapi menurut masyarakat pemeluk
Kaharingan, tiwah merupakan proses mengantarkan arwah atau dalam bahasa
Dayaknya liau ke surga atau “Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan
Dia Rumpang Tulang”, yang berarti sebuah tempat yang kekal atau abadi
dan tempat itu berhiaskan emas, permata, berlian, dll.
Upacara
Tiwah dipimpin oleh Basir atau Pisur. Istilah Basir dipakai di daerah
Kahayan sedangkan Pisur di daerah Katingan. Pada umumnya upacara yang di
pimpin oleh Basir relatif lebih lama berkisar 2 bulan dari pada
upacara yang di pimping oleh Pisur.
Wahhhhh...
gimana gimana? dari informasi diatas, kalian makin tambah piter ga
nih.. hehe Walau ini hanya satu dari semua daerah yang ada di Indonesia,
tapi sudah kaya banget kan budayanya :D Behh.. Indonesia emang Top
markotop dah ya haha.. Okayyy, itu dia sedikit tentang informasi dari
daerah kesayanganku, eh btw aku mau bilang, kalo aku sukaaaa bangettt
sama tarian dayak khas kalteng lohh >.< dan bahkan aku pernah jadi
penarinya.. wahh pengalaman yang menyenangkan deh pokoknya :D
Okeoke.. Terimakasih atas waktunya yaaa See you in my next post!








Tidak ada komentar:
Posting Komentar